Obituary Sebuah Akal Sehat

Satu persatu, mereka terjungkal dari peradaban. Meninggalkan hamparan rumput segar, yang entah mengapa tak lagi berasa kesejukan. Konon, beberapa tahun silam, banyak orang bilang bahwa ini tanah surga. Harapan siap jadi kenyataan dengan cara yang paling wajar. Tiap mimpi akan mendapat penghargaan dengan cara yang layak. Tapi seperti banyak kisah, selalu ada akhir yang kadang tak memuaskan pembaca, pemirsa, atau pendengarnya. Ini bukan cerita tanpa logika, meski ini cerita yang paling menyedihkan.

Semua gara-gara Sangkuni. Ia datang, bersama beberapa sangkuni lain, kloning busuknya. Datang menghasut para raja, menebar berita bohong, fitnah, dan menawarkan logika-logika palsu. Dasar sang raja berotak bebal, ia lebih suka menganggukan kepala. Bapaknya, raja terdahulu, memilih diam berlagak jadi pandita.

Penasehat yang lain, hanya bisa diam karena dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tak mengenakkan ; diam atau dihancurkan diam-diam. "Saya hanya penasehat, bukan raja. Saya hanya bisa memberi jawaban ketika diminta. Dan berbeda dengan sang raja terdahulu yang tak malu bertanya, raja kini, lebih suka berprasangka, bahwa saya bisa membangun nafsu untuk menjadi raja," keluh Penasehat. Orang-orang yang datang mengadu ikut diam tak berdaya. Tak tahu, kan dibawa kemana akal sehatnya nanti.

Sementara di sana, Punggawa Tata Energi duduk dengan congkaknya. Di ruang sebelah, Punggawa Pembawa Berita menari di atas tumpukan surat-surat cinta. Di ruang lain, ada punggawa yang pura-pura bekerja, tapi pikirannya entah di selangkangan siapa. Di tempat lain, Punggawa Perdagangan Nagari menangis pilu. Bersama Punggawa Lontar, juru tulis kerajaan, dan beberapa pengikut setia.

"Suatu saat, kita akan terbiasa berkenalan dengan dengki dan curiga. Jika kita tak mampu menjilat pantat raja, melumat kelamin Penasehat Sangkuni, kita akan tergilas. Yang artinya, dipaksa untuk meninggalkan nagari ini," timpal Punggawa Perdagangan Nagari. Di depannya, beberapa rekan sejawat mencoba untuk tak meneteskan air mata. Membiarkan punggawa yang hampir delapan tahun berbagi waktu dan ruang itu mengumpulkan barang-barang penting di kotak baja.

"Kawan-kawan seperjuangan, terima kasih atas dukungan dan kepercayaannya selama ini. Hampir delapan tahun saya bergabung dalam sebuah keluarga besar yang luar biasa. Saya banyak belajar di sini, tentang apa arti loyalitas, integritas, berkarya, bercanda, tertawa. Saat ini bisa diartikan sebagai akhir perjalanan, saya lebih suka melihat ini sebagai awal persahabatan. Maafkan kalau ada kesalahan, sepurane yo dulur. Aku tangi dhisik," kata Punggawa Perdagangan Nagari, berdiri lalu meninggalkan ruang kerjanya.

Tak ada air mata, tak ada pula yang berani tertawa. Karena waktu memang telah bergerak dengan caranya sendiri. Yang pasti, kabar ini tak menggoyahkan Sang Raja beranjak dari pengaruh Sangkuni. "Selalu akan ada seleksi alam. Siapa yang bisa bertahan. Akan ada bintang-bintang baru yang siap menjaga nagari ini," katanya.

** untuk mereka yang akhirnya menemukan jalan

0 komentar: